Sunday, 12 July 2009

Notes to My Lab Partner

*ga jago bahasa inggris, tapi mau latian, jadi harap maklum kalo salah2.. XD*

I know this kinda early because my report still need to be revised a couple times before I could submit it to the library and called my self a free-man (an unemployed-man actually.. XD), but let me say a few things.

Back in January, I was scared to death about my final project. Less than six month to develop a system that big just never appeared in my mind, even in my wildest dream. But I’ve got my brother in my back saying, “The topic is interesting and very challenging in my opinion. I think you should take it”. Leaving my fear and worries behind, I took that topic and officially became a member of students that taking their final projects in Computational Intelligence Lab.

The 2009 Computational Intelligence Lab group consist of six students. Five students who actually taking their final project, and one student as the manager (sort of.. XD) of the rest. We got the-most-beautiful-woman-in-the-group (yes, she’s the only one woman in the group.. q=) Mia, the-flowchart-Master-and-all-sweating-forehead Irvan, the-always-coming-at-3.00 o’clock-or-above Hari, the-typography-Guru-and-part-time-professional-photographer Danu, the-soon-to-be-king-and-the-manager Bram, and of course, myself.

In our lab, we always having a weekly progress report presentation in Wednesday and hell yeah, we will as busy as a slave in Tuesday to finish our presentation. I even having trouble-sleeping in Tuesday night just because the progress report presentation (Well, maybe because usually my progress is nothing.. )X). But, in my opinion, the progress report presentation is the one that always keep me on working on my final project (yes, I am such a lazy boy. q=). And after the presentation over, we always celebrate our temporary freedom with a little party.

Last Tuesday was the day. A whole day, from 09.00 AM to 17.00 PM, a long marathon of our lab final project presentation. It was brutal, but also amazing. All of us doing the best that we could, and I think, we rock and making a great performance. And after that, all of us having a very special dinner in Bogor later that night.

Six month passed, sweet, bitter, and amazing. At first I thought that I took the wrong decision with this final project. I thought it was a “trouble” because I wasn’t so confident with my skill and ability. But, with you guys, the five most incredible friends I ever had, the final project seems not troubling at all, so thanks for the support, time, laugh, cry, love and other things that you guys share with me. Thanks, thanks a lot.


Depok, 12nd July 2009



Anugrah Ramadhani

Sunday, 10 May 2009

Right Place Right Time

“Kids, I've been telling you the story of how I met your mother, and while there's many thing to learn from this story, this may be the biggest.
The great moments of your life won't necessarily be the things you do.
They'll also be the things that happen to you.

I'm not saying you can't take action to affect the outcome of your life.

You have to take action, and you will.
But never forget that, on any day, you could step out the front door and your whole life can change forever.

You see, the universe has a plan, kids,
and that plan is always in motion.

A butterfly flaps its wings...

and it starts to rain.

It's a scary thought. But it's also kind of wonderful.
All these little parts of the machine constantly working, making sure that you end up
exactly where you're supposed to be, exactly when you're supposed to be there.

The right place...

at the right time.”

Ted Mosby - How I Met Your Mother

My favorite narration in the series so far..

Tuesday, 10 March 2009

bring down the list..

Wish List of mine

ordered by degree of priority.. (~sort of..)
1. Willingness to hard work (~for my final project and my German Language Class)
2. a good night sleep (~for my sanity)

=============|FINANCIAL LIMIT START|===============

3. a decent earphone (~for my sanity, too..)
4. new Wallet
5. new running shoes
6. a new pair of formal sandals
7. The Kite Runner - Khaled Hosseini
8. Persepolis and Persepolis II - Marjane Satrapi (~how come they don't translate these books?!!)
9. Anne of the Green Gables - Lucy Maud Montgomery English version (~the Indonesian version cover looks so damn disgusting..)
10. The No.1 Ladies Detective Agency series

=============|FINANCIAL LIMIT END|=================

11. 2 pieces of 1 GB DDR2 memory modules
12. Nintendo DS
13. Nintendo Wii
14. A new and more-rational-Wish list

Monday, 2 March 2009

Ngeluh ah..

help..

Thursday, 26 February 2009

main gimbot bikin pusing..

Hm, kebetulan pas di Gramedia Depok lagi cari-cari pengisi daftar belanjaan (~tetep ga dapet.. )X) tiba-tiba ketemu buku yang sangat menarik perhatian. Novel grafis sih lebih tepatnya, covernya oke sekali, dan ternyata juga sisnya tidak kalah okenya.. jadilah saya buat review satu lagi.. hohoh

Chicken with Plums – Marjane Satrapi



Chicken with Plums, mengambil latar belakang kota Teheran pada tahun 1958 mengisahkan tentang Nasser Ali Khan, paman buyut dari Marjane Satrapi, yang terkenal sebagai salah satu musisi tar (sejenis alat musik perkusi asal Iran) terbaik di Iran pada masa itu. Cerita berpusat keinginan Nasser Ali untuk mengakhiri hidupnya karena suatu sebab pada tanggal 15 November 1958. Tepan delapan hari kemudian, yaitu pada tanggal 22 November 1958, Nasser Ali pun meninggal. Selama delapan hari itu, sambil menunggu kedatangan malaikat maut untuk mencabut nyawanya, berbagai peristiwa dan pikiran berkelebat dalam benaknya, dan dari potongan ingatan dan pikiran tersebut, perlahan terkuak alasan yang melatarbelakangi keputusan Nasser Ali untuk mati saja.
Terdiri dari 88 halaman, Marjane Satrapi memaparkan kisah tragis tentang hidup, musik, dan cinta dari paman buyutnya melalui gambar-gambar hitam putih yang sederhana namun sangat ekspresif dalam menggambarkan emosi dan suasana dari cerita. Chicken with Plums ditulis dengan gaya yang cerdas dalam menggabungkan humor dan kondisi dari Iran pada tahun 1950-an yang tengah mengalami gejolak perubahan sosial yang besar. Secara keseluruhan, Chicken with Plums adalah sebuah novel grafis yang cerdas, penuh humor, sekaligus sensitif dalam menjabarkan tentang hidup dan mati.
Sedikit informasi mengenai penulis, Marjane Satrapi adalah seorang penulis kelahiran Iran yang tinggal di Paris. Marjane adalah kontributor rutin untuk beberapa media ternama dunia seperti The New Yorker dan The New York Times. Karya-karyanya meliputi buku untuk anak-anak dan novel grafis Embroideries, Persepolis, dan Persepolis II yang menjadikan namanya terkenal karena mencetak Bestseller internasional.
Huhu, sayangnya (~apa justru untung?) Si Embroideries dan Persepolis gak keliatan batang hidungnya.. kalo kagak, udah gw bantai juga nih.. huhu, menambah panjang daftar belanjaan aja neh.. T_T

Thursday, 15 January 2009

update..

Update-update.. duh duh aduh, sebenernya banyak yang mau disampaikan sih, tapi kebanyakan udah basi dan sudah lewat masa layak bacanya.. jadi, biarin aja deh mengendap di otak.. eheheheh.. daripada basi, mendingan ngepost review buku aw aw aw..
check this out! (~canadian style… XD)



Kisah ajaib mengenai gerombolan pencuri waktu
dan seorang anak kecil,
yang mengembalikan waktu yang hilang dicuri
kepada umat manusia

sebuah roman dongeng

“Waktu adalah uang”. Sebuah pepatah yang sudah umum diketahui. Namun bagaimana jika waktu bisa dicuri dan disimpan dalam bank layaknya uang? Michael Ende, seorang penulis kenamaan dari Jerman membungkus ide sederhana ini menjadi sebuah kisah petualangan yang sangat menarik lewat novelnya “MOMO”.

Kisah MOMO berlangsung dalam sebuah dunia modern di selatan Eropa. Diceritakan bahwa sebuah gerombolan yang biasa disebut “tuan kelabu” beraksi diam-diam mencuri waktu dari setiap orang dewasa. Orang-orang didesak untuk selalu menghemat waktu sebagai kedok dari pencurian waktu yang dilakukan para “tuan kelabu”. Seiring dengan semakin banyaknya orang yang menghemat waktu, kehidupan semakin hambar, dingin, dan asing satu sama lain.

Melihat keadaan yang semakin parah, Empu Hora, sang pengelola waktu meminta bantuan Momo, seorang gadis kecil gelandangan untuk membebaskan kembali seluruh waktu yang dicuri para “tuan kelabu”. Ditemani seekor kura-kura, Momo berusaha sekuat tenaga untuk melawan gerombolan “tuan kelabu” demi menyelamatkan umat manusia dari cengkraman para pencuri waktu.

Ada banyak hal yang menarik dari buku ini, tetapi satu hal yang paling menarik perhatian (disamping cerita utama yang sedang berlangsung, tentu saja.. q=) adalah judul dari setiap bab yang selalu bersuasana kontras dan membuat penasaran seperti, “Perhitungan yang Salah Namun Tidak Meleset”, “Pengejaran yang Seru dan Pelarian yang Tenang-tenang Saja”, “Kalau Orang-orang Jahat Mengupayakan yang Terbaik dari yang Buruk” dan favorit saya, “Jika Kita Memandang Ke Depan Tanpa Menoleh Ke Belakang”. Semua judul dari bab merupakan inti dari cerita yang berlangsung dalam bab tersebut.

Michael Ende juga menyisipkan banyak sekali pelajaran moral dalam kisah Momo ini, hal ini seharusnya wajar karena buku ini memang ditujukan untuk anak-anak, tapi di beberapa bagian rasanya pesan moral yang dibawa agak berlebihan dan terasa dipaksakan.
Satu kelemahan yang cukup mengganggu saya secara pribadi sebenarnya adalah ceritanya. Buku ini tebalnya 320 halaman, tetapi bagian utama dari petualangan Momo mulai diceritakan pada halaman 300, sehingga akhir dari cerita ini menjadi kurang mantap menurut saya. Secara umum, MOMO adalah sebuah novel yang sangat menarik dan bagus, ie ceritaya tidak biasa, dan jalan ceritanya juga menarik dan bikin penasaran. Lewat novel ini Michael Ende berhasil meraih penghargaan Deutsche Jugendliteraturpreis pada tahun 1974. Dengan membaca novel ini saya jadi penasaran dengan karya-karya Michael Ende yang lainnya.